Senin, 20 Agustus 2012

Kebahagiaan Haqiqi


MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI

ﺃﻠﺤﻤﺪﷲﻨﺤﻤﺪﻩﻭﻨﺴﺗﻌﻴﻨﻪﻭﻨﺴﺗﻐﻔﺮﻩﻭﻨﻌﻭﺬﺒﺎﷲﻤﻦﺷﺮﻮﺮﺃﻨﻔﺴﻨﺎﻭﻤﻦﺴﻴﺄﺖﺃﻋﻤﺎﻠﻨﺎ
ﻤﻦﻴﻬﺪﺍﷲﻔﻼﻤﻀﻞﻟﻪﻭﻤﻦﻴﻀﻠﻞﻔﻼﻫﺎﺪﻱﻠﻪﻭﻤﻦﻠﻢﻴﺠﻌﻞﺍﷲﻠﻪﻨﻭﺮﺍﻔﻣﺎﻠﻪﻣﻦﻧﻭﺮ
ﺃﺸﻬﺪﺃﻦﻻﺇﻠﻪﺇﻻﺍﷲﻭﺤﺪﻩﻻﺷﺮﻴﻚﻠﻪﻮﺃﺷﻬﺪﺃﻦﻤﺤﻤﺪﺍﻋﺑﺪﻩﻮﺭﺴﻮﻠﻪﺃﻠﻟﻬﻢﺻﻞﻮﺴﻠﻡ
ﻮﺑﺎﺭﻚﻋﻟﻰﻤﺤﻤﺪﻮﻋﻟﻰﺃﻠﻪﻭﺼﺤﺒﻪﻮﻤﻦﺘﺑﻌﻬﻢﺒﺈﺤﺴﺎﻦﺇﻠﻰﻴﻭﻢﺍﻠﺪﻴﻦﺃﻤﺎﺑﻌﺪﻔﻴﺎﻋﺑﺎﺪﺍﷲﺃﻭﺼﻴﻜﻢﻭﻨﻔﺴﻰﺑﺘﻘﻭﻯﺍﷲﻔﻘﺪﻔﺎﺰﺍﻟﻤﺘﻘﻭﻦﻮﻘﺎﻞﺍﷲﺘﻌﺎﻟﻰﻔﻲﻜﺘﺑﻪﺍﻟﻟﻜﺮﻴﻢ

Jama’ah rahimakumullah,
Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat dan hidayahNya kepada kita. Mudah-mudahan segala nikmat tersebut dapat kita manfaatkan secara maksimal dalam rangka mengabdi kepadaNya serta berbuat ihsan pada sesama. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan pada diri Rasulullah SAW sebagai sumber tauladan yang paripurna bagi siapa saja yang ingin hidupnya bermartabat, selamat minad-dunnya ilal akhirat. Amin.
Pada kesempatan yang mulia ini, khotib berwasiat marilah kita tingkatkan kwalitas iman dan taqwa dengan sebenar-benar Taqwa, yakni berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan segala perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Mudah-mudahkan dengan taqwa yang benar, kita akan memperoleh kebahagiaan hidup yang hakiki baik di dunia yang fana ini hingga di akherat kelak yang abadi.

 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Secara fitrah setiap manusia pada umumnya selalu menghajatkan kehidupan yang senang, bahagia,  damai, tenang dan tentram lahir dan batinnya. Karenanya wajar jika manusia berupaya semaksimal mungkin dengan berbagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Kita saksikan fenomena kehidupan manusia yang ingin meraih kebahagiaan tejadi dimana-mana dan dalam dimensi yang berbeda-beda, misalnya : ada anggota DPR yang berani melakukan mark-up proyek-proyek besar, banyak  pejabat Ekskutif yang korupsi, ada orang bekerja dari pagi hingga malam di kantor-kantor perusahaan,  para pedagang rela berniaga dari pasar satu ke pasar yang lain, para petani rela menjemur diri di bawah terik panasnya matahari, para nelayan sanggup menerjang ombak dan badai demi mendapatkan tangkapannya.. Sampai-sampai seorang  dokter atau bidan berani melakukan aborsi pada pasiennya.
Itu semua jika diakui secara jujur, karena hendak meraih sebuah nilai kebahagiaan. Pendek kata, orang akan melakukan apa saja demi menggapai kebahagiaan, tanpa memperhatikan apakah cara yang dilakukannya itu merugikan diri sendiri atau pihak lain. Tetapi apakah dengan usaha seperti itu sudah pasti menjamin datangnya kebahagiaan? Ternyata fakta menunjukkan bahwa saudara-saudara kita yang kita gambarkan di atas tidak semuanya merasakan kebahagiaan yang hakiki, bahkan ada yang justeru merasakan pesakitan. Ada anggota DPR, para ekskutif yang meringkuk di balik jeruji tahanan, banyak pegawai perusahaan yang menderita karena di PHK, tidak sedikit para petani yang menjerit karena dipermainkan pupuk dan harga, ada pula dokter dan bidan yang harus berurusan dengan hukum.

Ma’asyiral Muslimin rahmakumullah,

Jika demikian realitanya, hal yang perlu kita tanyakan, mengapa orang yang sudah mati-matian berusaha dan bekerja belum atau tidak juga bahagia? Adakah sesuatu yang salah dalam usaha mereka? Untuk menjawab kegelisahan tersebut, bagi seorang Muslim yang mukmin tidaklah terlalu sulit. Karena dalam pandangan Muslim yang mukmin, konsep bahagia itu telah terlihat gamblang (jelas) sebagaimana do’a yang selalu terucap :
”Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah : 201)

Sesungguhnya kebahagiaan ”Hakiki” itu menuntut dua aspek yang saling mendukung. Adanya keseimbangan antara aspek lahir dan batin, aspek materiil dan moril juga aspek duniawi dan ukhrawi. Keduanya harus terpenuhi secara seimbang. Jika aspek dunia lebih ditonjolkan dari aspek akherat, maka kebahagiaan hakiki tidak akan terpenuhi, begitu pula sebaliknya. Al-Qur’anul Karim memberi petunjuk kepada kita :
”Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.  (QS. Al Qashash : 77).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jika demikian, apa yang sering diusahakan mati-matian oleh manusia di dunia dalam mengejar materi, akan berujung penderitaan dan kelelahan semata jika tidak dibarengi dengan pendakian rohani. Bila seorang hamba berkhidmad sungguh-sungguh kepada Allah SWT, maka dunia ini atau alam ini pasti akan berkhidmad kepadanya.  Jika ia seorang petani, sawah ladang atau hasil buminya akan subur melimpah dan mudah rezekinya. Jika ia seorang pedagang, akan mudah peruntungan dalam perdagangannya, maju dalam perusahaannya serta akan mendapatkan rezeki yang halal. Orang yang berkhidmad kepada Allah, senantiasa akan menikmati sehat badan, menikmati ketenangan hidup, menikmati kebahagiaan hakiki. Allah SWT dalam hadits QudsiNya berfirman : ”Wahai dunia, berkhidmadlah kepada orang yang telah berkhidmad kepadaKu, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu”. (HQR. Al-Qudla’i yang bersumber dari Ibnu Mas’d r.a).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sekarang mengertilah kita, bahwa kebahagaan  yang hakiki itu akan terwujud jika kita mampu memelihara keseimbangan hidup antara aspek duniawi dan aspek ukhrawi. Keseimbangan hidup ini sangat tergantung pada niat hati, apakah akan menggunakan dunia ini sebagai jembatan bagi kehidupan di alam akherat ataukah hanya untuk menghambakan diri pada dunia.  Rasulullah SAW bersabda :

”Barangsiapa yang menjadikan dunia ini (pusat)  cita-citanya, niscaya Allah akan menceraiberaikan urusannya dan menjadikan kepapaan menghantui dirinya serta tidak akan datang kepadanya keduniaan melainkan sekedar apa yang telah dtetapkan. Dan barangsiapa yang menjadikan akherat itu niatnya, niscaya Allah menghimpunkan segala urusan serta menciptakan kepuasan dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya”.

Dalam riwayat  yang lain, Rasulullah SAW bersabda :

”Barangsiapa yang bertekad hanya menghubungkan diri kepada Allah SWT semata niscaya Allah menjamin segala keperluannya, dan memberinya rezeqi dari yang tidak pernah diduganya. Dan barangsiapa yang bertekad menghubungkan diri kepada dunia semata, niscaya Allah menyerahkannya kepada dunia itu”.

 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hamba Allah atau manusia yang mencita-citakan hidup hakiki dituntut memahami makna hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT. Jika seseorang telah memahami maksud dan tujuan Allah SWT menciptakan dirinya, ia akan sukses meraih kebahagiaan yang hakiki tersebut. Untuk sekedar menyegarkan ingatan kita, bahwa dalam konsep Diinul Islam kita diciptakan Allah SWT di muka bumi ini disamping berfungsi sebagai hamba Allah untuk ta’abud (beribadah) kepadaNya juga mempunyai misi sebagai KhalifahNya yang diberi hak mengelola alam seisinya untuk sarana ibadah. Sehingga baik ibadah mahdhah maupun mu’ammalah duniawiyah harus diselaraskan. Barangkali inilah yang dimaksud dari firman Allah SWT :
”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 21)
 Juga dalam firmanNya yang lain :
      
”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Zariyat : 56)

Jama’ah Rahimakumullah,
Dari beberapa ayat dan nukilan hadits di atas kiranya kita dapat simpulkan bahwa Hidup yang Hakiki itu dapat diraih hanya dengan membangun hubungan sinergis atau hubungan yang berimbang, seperti memelihara hablum minallah wa hablum minannas, menjaga keseimbangan  aspek jasmani dan aspek rohani, juga mmelihara keharmonisan antara  duniawi dengan urusan uhkrawi. Insya Allah jika kita sanggup  mengkondisikan aspek-aspek tersebut do’a dan harapan kita seperti yang terlukis dalam do’a :

akan dapat terealisir. Mudah-mudahan kita tergolong ke dalam hamba-hambaNya yang dianugerahi hidup dan kehidupan yang hakiki, selamat dunia hingga akherat nanti. Amin yaa rabbal’alamin. Demikianlah khutbah singkat ini disampaikan, kiranya dapat kita jadikan muhasabah (renungan diri) dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia yang fana ini menuju kehidupan akherat yang kekal abadi itu.
 
ﺑﺎﺭﻚﺍﷲﻠﻲﻮﻟﻜﻡﻔﻰﺍﻟﻗﺭﺁﻦﺍﻠﻜﺭﻴﻡﻭﺍﻠﺬﻜﺭﺍﻠﺤﻛﻴﻡﻮﻨﻔﻌﻨﻲﻭﺇﻴﺎﻜﻡﺒﻤﺎﻔﻴﻪ
ﻤﻦﺍﻷﻴﺎﺖﻮﺍﻷﺤﺎﺪﻴﺙﺴﻴﺪﺍﻠﻤﺮﺴﻠﻴﻦﺃﻠﻠﻬﻡﺍﻏﻔﺮﻮﺍﺮﺤﻡﻠﻟﻤﺴﻠﻤﻳﻦﻭﺍﻟﻤﺴﻟﻤﺎﺖ
ﻭﺍﻠﻤﯝﻤﻨﻳﻦﻮﺍﻟﻤﯝﻤﻧﺎﺖﺃﻷﺤﻴﺎﺀﻮﺍﻷﻤﻮﺍﺖﺒﺮﺤﻤﺘﻚﻴﺎﺃﺮﺤﻤﺍﻠﺮﺍﺤﻤﻴﻦ
ﻮﺍﻠﺤﻤﺪﷲﺭﺐﺍﻠﻌﺎﻠﻤﻴﻦ


















Abbad Ziaul Iqbal


Abu Abbad Ar-Rozan Al-Mafaza


Our good friends


Khutbah Idul Fitri 1433 H


TIGA UKURAN KEBERHASILAN SHOUM RAMADHAN
Abu Abbad Ar-Rozan al-Mafazah
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
 Mengawali khutbah Idul Fitri pada pagi hari ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadlirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karuniaNya yang masih kita rasakan hingga saat ini. Bersyukur, karena kita telah berhasil menunaikan puasa Ramadhan. Bersyukur, karena kita masih diberi kesempatan  untuk meraih kemenangan pada hari ini, menang sebagai insan Muttaqien sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dalam firman-Nya “La’allakum tattaquun”.  Sholawat dan salam semoga Allah limpahkan atas diri Rasulullah SAW, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia menghidupkan sunnah dan risalahnya hingga akhir zaman nanti. Amin.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

 Ramadhan dengan ibadah utamanya Shoum dan ibadah sunnat lainnya kini telah meninggalkan kita dengan perasaan sedih dan gembira. Sedih karena Ramadhan terasa cepat berlalu padahal belum banyak rasanya yang kita lakukan untuk mengisinya dalam upaya peningkatan taqwa kepada Allah SWT. Namun kita juga gembira karena adanya janji ampunan dari Allah SWT atas dosa yang telah kita lakukan sehingga harapan kita, berakhirnya Ramadhan membuat kita menjadi orang dengan jiwa yang bersih dari dosa. Bukankah Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa pada Bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridlo Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari).
Untuk menilai apakah kita sudah mencapai keberhasilan dalam ibadah Ramadhan, paling tidak ada 3 (tiga) ukuran yang bisa kita jadikan patokan. Pertama : memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT sehingga ia merasa dekat dan merasa selalu diawasi oleh-Nya.Ini merupakan hikmah yang sangat penting dari ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di dalam Islam. Sikap ini menjadi begitu penting dalam kehidupan seorang  muslim karena dengan demikian ia tidak berani menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan Allah SWT meskipun peluang untuk menyimpang sangat besar dan bisa jadi menguntungkan secara duniawi. Hal ini karena setiap perbuatan manusia ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak. 

Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Kita tentunya masih ingat kisah yang terjadi pada masa Khalifah Umar Bin Khattab r.a. Pernah pada suatu malam  ia berkeliling kampung menyambangi rakyatnya. Ketika malam semakin larut, tidak hanya mata beliau yang semakin kantuk tetapi juga badan dan kaki yang terasa lelah. Maka Khalifah Umar r.a. bersama pengawalnya Aslam bersandar pada dinding suatu rumah. Tiba-tiba dari dalam rumah itu terdengar suatu percakapan dari dalam
“Wahai anakku, perasan susu kita hari ini tinggal sedikit. Agar kita dapat untung yang sama dengan hari kemarin, sebaiknya kita campur saja susu ini dengan air”. “Jangan ibu, itu namanya perbuatan tidak jujur, lagi pula ibu kan tahu Khalifah Umar telah menegaskan agar para penjual susu murni tidak mencampur susu dengan air karena ingin mendapatkan keuntungan yang banyak”. 

 Khalifah Umar mulai faham setelah mendengar kalimat ini, rupanya ini adalah percakapan seorang ibu penjual susu murni dengan anak gadisnya. Selanjutnya Umar  mendengar lagi kalimat dari sang ibu: 
“Ah, telah banyak orang yang melanggar peraturan itu, ibu kira tidak ada salahnya bila kita mencampur susu dengan air. Tujuan kita bukan untuk mencari keuntungan besar, kita hanya ingin agar keuntungan kita hari ini sama dengan hari kemarin. Sebab jika tidak begitu, perolehan kita tidak cukup untuk biaya makan sehari”.
“Tapi apakah ibu tidak takut ketahuan Khalifah Umar bin Khattab?’, tanya sang putri. “Khalifah Umar tidak akan tahu nak!. Dia saat ini tentu sedang enak tidur di istananya, mana dia tahu kesulitan kita”. Tegas sang ibu.
“Ibu, Khalifah Umar mungkin saja tidak tahu dengan penderitaan dan apa yang kita lakukan, tetapi Tuhannya Khalifah Umar, Tuhan kita juga pasti mengetahuinya”, kata sang anak meyakinkan ibunya. “Pokoknya saya tidak mau mentaati Allah disaat ramai, lalu mendurhakaiNya dikala sepi”, tegas sang putri. 
Sepenggal kisah lama ini merupakan bukti betapa seorang gadis miskin penjual susu murni memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT dan merasa dekat dengan-Nya. Coba kita bandingkan dengan kehidupan moderen saat ini, betapa orang telah berani secara   terang-terangan  melakukan berbagai tindak korupsi, dari proyek berskala besar hingga proyek-proyek kecil,  bahkan Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci Ummat Islam saja sudah dikorupsi. Begitu pula mafia hukum dan peradilan  masih meraja lela dimana-mana. Kelakuan para pemimpin dan penguasapun tidak kalah dlolimnya, rakyat dibiarkan mencari jalan kehidupan sendiri-sendiri tanpa tauladan dan perlindungan yang berarti. Wajar jika kemudian disana-sini terjadi disharmonisasi antara penguasa dan rakyat. Banyak para penguasa yang terus menerus menebar sikap arogansi dengan menjadikan rakyat sebagai tumbal untuk menumpuk numpuk materi dengan cara-cara yang keji. Mereka lupa atau mungkin sengaja melawan Allah, seolah olah kehadiran Allah SWT dianggap sepi, padahal Allah SWT selalu mengawasi tingkah polah semua makhluknya tanpa terkecuali ummat manusia.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

 Kedua, Ukuran keberhasilan ibadah Ramadhan adalah selalu menjaga kebersihan hati dari segala dosa dan sifat tercela serta berusaha mengendalikan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan.
Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini. Karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak mudah lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Jika dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka kalau sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi. Dengan demikian, jangan sampai dosa yang kita tinggalkan selama Bulan Ramadhan hanya sekedar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tetapi hanya ditebang dahan dan rantingnya, sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi, tiga, empat bahkan lima cabang beberapa waktu kemudian.
Dalam kaitanya dengan dosa, sebagai seorang Muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi jika mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan. Bila ini terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi di hadapan Allah SWT, sebagaimana firmanNya:
  
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS. Al-A’raf : 40).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

 Keinginan untuk menjaga diri dari dosa membuat orang yang sudah berpuasa dengan baik menjadi sangat hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selama beribadah di Bulan Ramadhan, kita cenderung sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia dengan sebab kesalahan yang kita lakukan. Kehati-hatian dalam hidup menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekedar ikut-ikutan dalam melakukannya. Allah SWT berfirman :
  
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnyaa pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabannya”. (QS. Al-Isra : 36).

 Puasa Ramadhan yang baru saja kita tunaikan adalah pengendali diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan  minum yang sebenarnya pokok, tetapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang mengatakan: “saya lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”, padahal makan itu pokok dan merokok itu tidak perlu.

Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan RasulNya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak, maka kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan bathil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak sopan. Yang pasti, selama manusia menginginkan sesuatu hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi , apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal. Allah SWT berfirman :
  
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda) kekuasaan Allah., dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al-A’raf : 179).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Ketiga, ukuran keberhasilan ibadah Ramadhan adalah membuat kita memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ‘ilmu

 Hal ini karena kita dituntut untuk semakin banyak beramal sholeh dan tentu saja dengan ilmu yang banyak membuat kita semakin tahu apa yang kita lakukan dan bagaimana melakukannya. Dalam menuntut ‘ilmu, setiap kita tentu saja harus memiliki niat yang ihklas karena Allah SWT semata. Diantara niat yang benar dalam mencari ilmu adalah akan digunakannya ilmu itu untuk menegakkan kebenaran Islam, sehingga bila kematian terjadi pada saat menuntut ilmu, maka matinya sangat mulia sehingga di dalam syurga ia mendapatkan derajat yang tinggi. Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa didatangi kematian pada saat sedang mancari ‘ilmu, yang dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan Islam, maka antara dirinya dan para nabi (hanya) ada satu derajat di syurga”. (HR. Thabrani dan Ad-Darimi).
Karena itu, bila seseorang niat mencari ‘ilmunya tidak karena Allah, tetapi semata-mata karena ingin mendapatkan kekayaan duniawi, maka ia terancam tidak mencium bau syurga, apalagi masuk syurga. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang dengan ilmu itu semestinya dia mencari ridlo Allah, dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan kekayaan dunia, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada hari qiamat”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majjah, Ahmad dan Ibnu Hibban).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

 Semoga ibadah Ramadhan yang baru saja usai kita tunaikan yang hari kemenangannya kita rayakan hari ini, memberi makna yang dalam kepada kita, sehingga ketaqwaan kita kepada Allah SWT kian meningkat dan paling tidak hingga sebelas bulan mendatang untuk selanjutnya kita tingkatkan lagi pada Ramadhan berikutnya.

 Pada akhirnya marilah kita rayakan hari kemenangan ini dengan penuh rasa suka cita namun tetap kita jaga nilai-nilai kesederhanaan. Kita jauhkan sikap pemborosan, perilaku sia-sia, dan segala tindakan yang akan menodai amal ibadah mulia yang baru saja kita tunaikan. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa kesalahan kita dan mengembalikan diri  kita dalam kefitrahan, menetapkan kita dalam Islam, Iman dan Ihsan. Akhirnya marilah kita berdo’a kehadlirat Allah SWT, dengan khusu’ dan penuh tawadlu’, dengan  penuh harap semoga permohonan kita diijabah.
Ya, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ampuni kami yang merugi, yang dlolim atas waktu yang terbuang. Ampuni kami yang menghamba pada khilaf dan nafsu syahwat bahkan angkara maksiat. Ampuni kami atas gelap mata, lidah dan telinga, atas tangan, kaki dan fikiran yang terlampau sering tak seiring jalan dengan qalbu nurani, kaidah khususnya aqidah.
Ya Allah Yang Maha Bijak, Kami bersimpuh hanya kepadaMu. Izinkan kami kembali ke hadiratMu bersama setetes amal diujung umur kami. Kami hanya sebiji zarah yang senantiasa terbenam lumpur dusta, nista sumpah serapah, insan angkuh, budi rapuh yang sering abai menunaikan titahMu.
Ya Allah, Yang Maha Baik lagi Maha Adil. Lapangkan kami menuju syurgaMu, lapangkan sisa umur kami kembali ke jalanMu. Ridloi dan terangi mata hati kami untuk kembali bersujud kepadaMu. Ampuni dosa kami, terimalah taubat kami dan ringankanlah ujian kami dalam melintasi cobaanMu.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun. Ampunilah segenap dosa orang-orang mukmin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan pengabul do’a.  Amin.


Kamis, 09 Agustus 2012

RAHASIA LAILATUL QADAR

Bulan Puasa Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Salah satu keistimewaan bulan ini adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, yakni Lailatul Qadar (malam seribu bulan). Banyak ayat di dalam Al-Quran yang menceritakan tentang keistimewaan malam ini. Diantaranya adalah Firman Allah SWT:“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS: Al-Qadr (97) ayat 1-5).
Dikatakan satu malam dengan barakah seperti 1000 bulan, karena di malam tersebut para malaikat dan Jibril turun ke bumi serta memohon kepada Allah SWT agar mengkabulkan doa’-do’a hambanya. Kemuliaan malam ini berakhir dengan terbitnya fajar.
Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar atau malam ketetapan adalah satu malam yang penting yang terjadi pada bulan ramadhan, yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lailatul Qadar juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an. Doa malam lailatul qadar:

”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku.”

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailat Al-Qadar itu, terjadi pada 10 malam terakhir bulan ramadhan. Hal ini berdasarkan Hadist dari Aisyah yang mengatakan :

”Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon” (HR: Bukhari dan Muslim).
 Tapi tahukah anda mengenai tanda-tanda malam Lailatul Qadar itu akan datang. Berikut adalah beberapa tanda yang pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa hadistnya.
  1. Udara & suasana pagi yang tenang. Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah.”
  2. Cahaya matahari melemah keesokan harinya, bersinar cerah tapi tidak kuat. Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.”
  3. Bulan nampak separuh bulatan. Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.”
  4. Malam yang terang, tidak dingin, tidak berawan, tidak hujan, tidak panas, tidak ada angin kencang, dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan binatang (lemparan meteor bagi setan). Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam : “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
  5. Terkadang terbawa kedalam mimpi. Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.
  6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya. Kebaikan yang turun pada malam itu, ibarat hujan yang turun dari langit ke semua permukaan bumi. Ketika itu ada manusia yang membawa payung untuk menolak air agar tidak basah. Ada manusia yang bersembunyi dirumah, mengamati cuaca dan diam menanti hujan reda. Ada manusia yang menyediakan ember untuk menampung air hujan (ada yang teliti dan ada yang tidak teliti dalam menyiapkan ember tsb). Ember yang sudah penuh tentunya tidak dapat menerima curahan air hujan, ember yang kosong dan kotor ternyata dapat menampung air hujan akan tetapi yang ditampung akan sia-sia. Ember yang kosong dan bersih serta ditempatkan pada tempat yang tepat baru dapat menampung air hujan dan airnya dijaga hingga dapat bermanfaat. Kesimpulan : siapa yang dapat menerima kebaikan di malam “seribu bulan”, yaitu siapa-siapa yang telah menyiapkan dirinya (hati, pikiran, ucapan, tingkah laku dan puasa dalam keadaan sempurna (“ibarat membuat ember kosong yang bersih”), kemudian di tempat bersujud dimalam lailatul qadar, menanti dan berharap, berjaga-jaga. Insya Allah kebahagiaan untuk mereka semua, damai haru dan bahagia bertemu dengan para malaikat dan para ruh, salam-salam-salam-salam sejahtera untuk mereka dan untuk kita. Amin.
Amalan yang paling baik untuk dilakukan pada saat Malam Qadar adalah : Membaca alqur'an, zikir, I'tikaf, berada di masjid. Memohon ampun.
Selayaknya, kaum muslimin untuk tidak pilih-pilih malam untuk beribadah, sehingga hanya mau rajin ibadah jika menemukan tanda-tanda lailatul qadr, karena bisa jadi ciri-ciri itu tidak dijumpai oleh sebagian orang. Mungkin juga, pada hakikatnya, ini adalah sikap pemalas, hanya mencari untung tanpa melakukan banyak usaha. Bisa jadi, sikap semacam ini membuat kita jadi tertipu karena Allah tidak memberikan taufik untuk beribadah pada saat lailatul qadr.

Sebaliknya, mereka yang rajin beribadah di sepanjang malam dan tidak pilih-pilih, insya Allah akan mendapatkan lailatul qadr. Sahabat Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu pernah memberikan nasihat tentang lailatul qadr, kemudian beliau berkata:
"Siapa saja yang shalat malam sepanjang tahun, dia akan mendapatkannya." (H.r. Ahmad dan Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Alban)

Keutamaan Malam Lailatul Qadar, Tanda-tanda, dan Waktunya alam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadar adalah malam mulia yang nilainya lebih baik daripada 1.000 bulan (30.000x malam biasa):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [QS Al Qadar: 1 - 5]
Asbabun Nuzul (Sebab-sebab turunnya ayat Al Qur’an) di atas adalah:
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.

Kapan Malam Lailatul Qadar itu Terjadi?
Malam Lailatul Qadar terjadi pada 1 malam ganjil pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan (malam ke 21, 23, 25, 27, atau 29). Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” [HR Bukhari dan HR Muslim].
Jika berat mencari pada 10 malam terakhir, coba cari pada 7 malam terakhir:
Dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa shahabat Nabi SAW melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir.” (Muttafaq Alaihi).
Kenapa mencari malam Lailatul Qadar pada 10 atau 7 hari terakhir (ganjil/genap)? Kenapa tidak 5 hari ganjil yang terakhir saja? Saat ini banyak kelompok masih berbeda penetapan 1 Ramadhan. Ada yang misalnya tanggal 1 bulan X Masehi. Ada pula yang tanggal 2. Jadi tidak jelas mana yang ganjil dan yang genap. Lebih aman kita tetap giat di 10 malam terakhir entah itu ganjil/genap.
Dari Muawiyah Ibnu Abu Sufyan ra bahwa Nabi SAW bersabda tentang lailatul qadar: “Malam dua puluh tujuh.” [Abu Daud]
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa, tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa.” [HR Bukhari]
Apa Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar?
Dari Ubay ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah (setengah bejana).” (HR Muslim 1170)
Dan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah SAW:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
Bagaimana Cara Mengisi Malam Lailatul Qadar?
Nabi Muhammad ber-i’tikaf (tinggal di masjid) pada 10 malam terakhir: Aisyah r.a. berkata,:
 “Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau.” [HR Bukhari]
Di masjid beliau shalat wajib dan sunnah, membaca Al Qur’an, berzikir, berdo’a, dan sebagainya.Nabi biasa melakukan shalat sunnat malam (Tarawih) pada bulan Ramadhan:
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” [Hr Bukhari]
Doa Malam Lailatul Qadar:
Dari ‘Aisyah ra bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda: “bacalah:

 ”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku.”
(artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku).” Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud.
Ciri-ciri Orang yang Mendapat Malam Lailatul Qadar
  1.  Ciri-ciri dari orang yang mendapat Malam Lailatul Qadar adalah dia ibadahnya lebih rajin daripada sebelumnya. Dia jadi lebih rajin shalat, puasa, sedekah, dsb.
  2. Tidak berani mengerjakan hal-hal yang maksiat. Tidak mungkin dia mabuk-mabukan, berjudi, atau pun berpacaran/mendekati zina.

Minggu, 22 Juli 2012

Khutbah : Idul Fitri


MEMBANGUN MENTALITAS BANGSA YANG BERMARTABAT
Oleh : Drs. H. Sutino Sasmito

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

Mengawali khutbah Idul Fitri pada pagi ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadlirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karuniaNya yang masih kita rasakan hingga saat ini. Bersyukur, karena kita telah berhasil menunaikan puasa Ramadhan. Bersyukur, karena kita diberi kesempatan  untuk meraih kemenangan pada hari ini, menang sebagai insan Muttaqien sebagaimana yang dijanjikanNya. Sholawat dan salam semoga Allah limpahkan atas diri Rasulullah SAW, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia menghidupkan sunnah dan risalahnya hingga akhir zaman nanti. Amin.

Jama’ah Idul Fitri rahimakumullah

Sejak Indonesia merdeka  tahun 1945 yang lalu, bangsa kita telah mengalami 66 kali berpuasa ramadhan dan 66 kali berhari Raya idul Fitri. Hal yang perlu kita renungkan dengan sekian kali kita jalankan Puasa Ramadhan dan sekian kali kita rayakan Idul Fitri, sudahkah membawa dampak bagi terciptanya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, bermartabat, berbudaya dan berperadaban?. Untuk menjawab pertanyaan  di atas, marilah sejenak kita renungkan, tentang kisah lama yang tercatat dalam tarikh Islam, yakni ketika Khalifah Umar bin Khatab hendak menguji kejujuran seorang anak penggembala kambing.

Suatu ketika Khalifah Umar mendatangi seorang anak penggembala kambing, seraya membujuknya agar anak itu bersedia menjual seekor kambingnya kepada beliau, mumpung keadaan sepi dan tidak ada orang yang melihatnya. Umar meyakinkan bahwa tuannya tidak akan tahu sekiranya kambingnya berkurang satu ekor. Setelah berbagai cara dilakukan sang Khalifah, anak itupun menjawab dengan lugas : “Allah pasti Maha tahu apa yang aku lakukan, dan aku malu kepadaNya jika aku melakukan hal tidak terpuji ini”. Mendengar jawaban anak penggembala tersebut, betapa tersayat hati Khalifah Umar bin Khatab, ternyata rakyatnya masih ada yang memegang teguh nilai-nilai “kejujuran”.

Kaum Muslimin, Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah

Itulah sepenggal kisah lama yang hampir terkubur. Dari kisah di atas, dapat kita jadikan i’tibar tentang kondisi negeri kita saat ini.  Sekarang ini di negeri yang penduduknya mayoritas beragama Islam, bahkan tercatat sebagai negara Islam terbesar di dunia, di negeri yang berdasarkan Pancasila, yang sila pertamanya berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, ternyata kejujuran menjadi barang yang sangat langka. Kejujuran hanya dijadikan slogan dan bahan khutbah , tidak pernah diaplikasikan dalam kehidupan. Saat ini bahkan banyak beredar semboyan sesat dalam masyarakat kita, yang Jujur akan hancur, yang lurus akan kurus, yang ikhlas akan tergilas. Nalar waras dan nurani kita tentu akan berontak ketika kita mengenang kisah tragis yang dialami sebuah keluarga, pasangan Widodo – Siami dan anaknya saat mengadukan kecurangan ujian nasional di salah satu SDN di negeri ini.

Siami yang mencoba berlaku Jujur, ternyata malah sempat terusir dari desanya. Warga marah karena perilaku jujur Siami dan anaknya yang didukung sang suami itu akan menyebabkan anak-anak warga yang satu sekolah dengan anak Siami terancam tidak lulus. Walaupun sekarang keluarga Siami sudah dimaafkan warga dan boleh kembali ke desanya, terlebih lagi setelah Mendiknas menyatakan tidak ada aksi contek masal di SDN Gadel II Surabaya itu, kisah memilukan itu dinyatakan selesai. Namun masih ada satu hal yang mengganjal, yaitu ada praktek untuk membungkam kejujuran. Dimasa depan orang akan berfikir ulang untuk menyuarakan kebenaran. Dengan kuatnya membungkam kebenaran bukan tidak mungkin seluruh penduduk negeri ini akan memilih menjadi “syetan bisu” yang tidak mau menyuarakan kebenaran, atau malah akan menjadi “juru bicara syetan” untuk menyebarkan kebohongan.

Jama’ah Rahimakumullah,

Shaum Ramadhan baru saja usai kita tunaikan, hari kemenangannya  sedang kita rayakan, tetapi mentalitas bangsa terasa masih berantakan. Shaum Ramadhan yang mengajarkan “kejujuran” ternyata belum mampu merasuk ke dalam sanubari masyarakat kita. Puasa dijalankan tetapi kebohongan juga tetap melenggang, lebih-lebih dilingkungan para pemimpin di negeri ini. Kita melihat, para tokoh di Republik ini sedang menjalankan drama kepura-puraan. Masyarakat selalu disuguhi adegan menyakitkan dari mereka yang sering dijuluki “kelompok manusia terhormat”. Kebijakan pemimpin dari pusat hinggá daerah yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat, sandiwara para politisi yang kian menguras energi, korupsi yang semakin menggurita, baik yang dilakukan secara individu maupun secara berjama’ah, bahkan budaya suap yang terus melembaga dikalangan birokrat, benar-benar telah meruntuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang ber-Pancasila.

Biduk negeri ini pelan tapi pasti akan pecah dan karam, layar perahu negeri ini akan koyak. Rakyat akan semakin terlantar, tidak terurus dan perlahan-lahan akan menjadi paria, bahkan menjadi pengemis di negerinya sendiri. Sementara kita melihat elit negeri ini telah membiarkan antara lisan dan perbuatannya pecah kongsi. Elit politik sibuk bertikai dan berbohong sementara negara dibiarkan berjalan sendiri alakadarnya. Begitu pula kondisi perekonomian menunjukkan grafik menurun, buktinya BBM kian langka,  harga kebutuhan hidup masyarakat kian melonjak. Ekonomi memang berjalan tetapi berjalan dengan sendirinya tanpa ada desain jelas dari pemerintah. Bila hal ini dibiarkan maka lama kelamaan akan runtuh juga, dan tidak menutup kemungkinan krisis ekonomi akan menyambangi kembali negeri ini seperti yang pernah terjadi pada dekade sebelumnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Di dalam AlQur’an, Allah SWT telah mengingatkan :

 “Dan jika kami hedak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (QS. Al- Isra’ ayat : 16).

Dalam Kitab Duratun Nashihin disebutkan, kelak akan datang pada suaatu masa akan menimpa ummat Islam, dimana akan lahir (1) Para pemimpin bermental singa (2) para menterinya bermental serigala (3) para penegak hukumnya bermental anjing dan (4) masyrakatnya bermental kambing.

Jika kita maknai lebih mendalam,  Singa memiliki karakter : galak, maunya menang sendiri dan merasa takut jika dirinya tersaingi binatang lain, prinsip hidupnya : dirinya harus menjadi raja walau dengan cara apapun. Adapun  Serigala memiliki karakter: binatang paling licik, demi ambisi tujuannya ia rela bergonta ganti sifat, ia tidak punya pendirian yang istiqamah yang penting dirinya aman. Sementara Anjing mempunyai watak: sangat bergantung pada tuannya, jika tuannya rajin memberinya daging ia akan rela mengabdi dengan seluruh kemampuannya, tetapi bila tuannya tidak lagi memberinya daging, ia rela menerkamnya. Adapun Kambing ádalah binatang yang memiliki karakter: sebagai binatang yang begog, tidak memiliki harapan masa depan, yang penting hari ini makan, yang penting dirinya gemuk meski esok hari dirinya akan disembelih pemiliknya.
 Terlepas benar atau salah ilustrasi di atas, tetapi ada kemiripan dengan apa yang terjadi di negeri tercinta ini. Jika karakter di atas telah membudaya, bukan barang mustahil negeri ini akan hancur sehancur hancurnya dengan derasnya malapetaka. Apalagi jika kita mengutip pandangan sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau mengatakan : Ada Lima penyebab turunnya malapetaka atas diri ummat Islam, yakni :

  1. Bila Islam tinggal namanya saja   
  2. Jika agama dipraktekkan dalam bentuk ceremonial saja    
  3. Al-Qur’an sekedar dibaca , tetapi tidak dikaji isinya apalagi diamalkan ajarannya  
  4.  Masjid banyak didirikan, tetapi tidak dimakmurkan melainkan sekedar untuk saling berbangga-banggaan   
  5. Banyaknya ulama yang telah menjadi pengkhianat, dari dirinya datang fitnah dan kepadanya pula fitnah itu kembali.

Sementara menurut pandangan di kalangan Hukama, bahwa binasanya suatu negeri disebabkan lima hal pula, yakni : (1) Para Ulama tidak lagi mengajar agama tetapi sibuk berpolitik (2) Para penguasa telah beramai-ramai menjadi pengumpul harta (3) Para pemimpin telah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya (4) Banyak orang awam bebas beragama tanpa memahami hujjahnya (5) Banyak pegawai yang tidak lagi jujur dalam bekerja.

 Menurut pandangan Mahatma Gandhi yang pemikiranya dikembangkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul ”Principle Centered Leadership”, menginventarisasi 7 (tujuh) dosa besar yang menyebabkan carut marutnya bumi saat ini. Ketujuh dosa besar tersebut adalah : (1) Jika kekayaan yang diperoleh didapat dengan cara yang tidak halal (2) Kenikmatan yang diperoleh dengan mengingkari suara hati (3) Pengetahuan yang dimiliki manusia tidak lagi beretika (4) Bisnis tanpa dilandasi moral (5) Pengetahuan tanpa dilandasi nilai kemanusiaan (6) Agama tanpa pengorbanan  dan (7) Politik tanpa prinsip.

Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah.

Ibadah Shoum Ramadhan yang Idul Fitrinya kita rayakan hari ini, sejatinya salah satu cara Allah SWT untuk mengajari ummat manusia agak menjadi makhluk yang bermartabat, berbudaya atau dalam istilah Al- Qur’an manusia ”bertaqwa”. Memang untuk menjadi individu dan bangsa yang berperadaban dituntut keberanian melakukan perbaikan diri. Tidak salah jika kita harus belajar dari kehidupan binatang ulat.

”Ulat” adalah salah satu ciptaan Allah SWT yang dapat kita tadaburi. Dalam pandangan naluri kita, ulat adalah binatang yang menakutkan juga menjijikkan. Struktur tubuhnya yang dibalut dengan bulu dapat membuat takut bagi yang melihatnya. Kehidupan ulat terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak jarang setiap dedaunan atau tanaman yang dilewatinya, rusak karena gigitannya. Banyak petani menanggung kerugian saat tanaman mereka dirusak oleh ulat. Tetapi pada saat tertentu, ulat yang selalu mengusik lingkungannya itu, berani melakukan perbaikan diri dengan merubah wujudnya menjadi ”kepompong”. Saat berubah bentuk dari ulat menjadi kepompong, pandangan manusia sudah mulai berbeda. Kini manusia tidak lagi merasa takut dan juga tidak merasa jijik saat menatap kepompong. Bulu-bulu yang menebarkan aroma gatal, kini tertbungkus kulit kepompong. Kakinya yang selalu merayap kini terhenti, begitupula gigi-giginya yang selalu digunakan untuk merusak tanaman, ia sembunyikan. Kini ulat melakukan proses kontempalsi, perenungan diri atau muhasabah.
 Dan  akhirnya, setelah tiba waktunya, ulat yang berubah wujud menjadi kepompong itu terus melakukan  metomorfosa beralih wujud menjadi ”seekor kupu-kupu”. Ketika telah lahir sebagai kupu-kupu, pandangan manusia sudah berbalik 180 derajat. Rasa takut, jijik dan risih, kini lenyap karena mereka melihat makhluk baru yang serba indah. Sayap-sayapnya berlukiskan warna-warni, kakinyapun saat hinggap tidak pernah mematahkan ranting, begitu pula tempat bermainnyapun dari kuncup bunga ke bunga yang lain. Subhanallah, itulah ayat kauniyah yang sangat berarti, bagi siapa yang mau memikirkannya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita, manusia adalah makhluk termulia diantara makhluk ciptaan Allah yang lain. Sanggupkah kita belajar dari kehidupan ulat?. Jika diri kita ingin menjadi kupu-kupu yang bertaqwa, kita harus berani melakukan metamorfosa diri (merubah karakter diri). Begitu pula jika kita ingin bangsa dan negara ini tampil sebagai bangsa yang beradab, bermartabat, berakhlaqul karimah, adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan, seharusnya semua elemen anak negeri harus berani melakukan perbaikan diri, baik para pemimpinnya, para menterinya, para penegak hukumnya tak terkecuali warga masyarakatnya. Kita tidak boleh malu belajar dari kehidupan ulat. Dan Shoum Ramadhan yang baru saja kita laksanakan, adalah cara terbaik untuk merubah diri kita ke arah yang lebih baik.

Jama’ah Idul Fitri rahimakumullah.

Marilah kita rayakan hari kemenangan ini dengan penuh sukacita namun tetap kita jaga nilai-nilai kesederhanaan. Kita jauhkan sikap pemborosan, perilaku sia-sia, dan segala tindakan yang akan menodai amal ibadah mulia yang baru saja kita tunaikan. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa kesalahan kita dan mengembalikan diri  kita dalam kefitrahan, menetapkan kita dalam Islam, Iman dan Ihsan. Akhirnya marilah kita berdo’a kehadlirat Allah SWT, dengan khusu’ dan penuh tawadlu’, dengan  penuh harap semoga permohonan kita diijabah.

Ya, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampuni kami yang merugi, yang dlolim atas waktu yang terbuang. Ampuni kami yang menghamba pada khilaf dan nafsu syahwat bahkan angkara maksiat. Ampuni kami atas gelap mata, lidah dan telinga, atas tangan, kaki dan fikiran yang terlampau sering tak seiring jalan dengan qalbu nurani, kaidah khususnya aqidah.

Ya Allah Yang Maha Bijak, kami bersimpuh hanya kepadaMu. Izinkan kami kembali ke hadiratMu bersama setetes amal diujung umur kami. Kami hanya sebiji zarah yang senantiasa terbenam lumpur dusta, nista sumpah serapah, insan angkuh, budi rapuh yang sering abai menunaikan titahMu.

Ya Allah, Yang Maha Baik lagi Maha Adil. Lapangkan kami menuju syurgaMu, lapangkan sisa umur kami kembali kejalanMu. Ridloi dan terangi mata hati kami untuk kembali bersujud kepadaMu. Ampuni dosa kami, terimal taubat kami dan ringankanlah ujian kami dalam melintasi cobaanMu.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun. Ampunilah segenap dosa orang-orang mukmin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan pengabul do’a.  Amin.