Sabtu, 21 Juli 2012

Firqah Najiyyah


FIRQAH NAJIYAH (GOLONGAN YANG SELAMAT)
Disarikan oleh : Drs.H. Sutino Sasmito*)

Sumber rujukan : Kitab Minhajul firqah an-najiyah wat thaifah al   manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat)  
Karya                  : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
_____________________________________________________________________
Dasar/dalil :
 
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 3: 103)



”Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,”Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka*) dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar-Ruum: 31-32)

*)Maksudnya: meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai kepercayaan menurut hawa nafsu mereka.

Sabda Rasulullah SAW :

  1. ”Aku wasiatkan kepadamu agar engkau bertaqwa kepada Allah, patuh dan ta’at sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barang siapa hidup (lama) diantara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu berpegang teguhlah pada sunnahku  dan sunnah Khulafaurrasyidin yang (mereka) itu mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di dalam neraka”.  (HR. Nasa’i dan At-Tirmidzi, hadits ini Hasan Shahih).

  1. ”Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari  ahli Kitab telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam syurga, yaitu al-jama’ah”. (HR. Ahmad).

  1. Dalam Riwayat yang lain disebutkan: ”Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para shahabatku meniti di atasnya. (HR. Tirmidzi).

  1. Ibnu Mas’ud r.a. meriwayatkan :
”Rasulullah SAW membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ”ini jalan Allah yang lurus”. Lalu beliau membuat garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, : ”ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syetan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca firman Allah SWT :”Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (QS. Al-An’Am: 153) . (HR. Ahmad dan Nasa’i)


SIAPAKAH GOLONGAN YANG SELAMAT ITU?
MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT:

1. Golongan yang selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah SAW dalam hidupnya serta manhaj para sahabat sesudahnya. Yaitu Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada RasulNya yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Rasulullah memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya, sebagaimana sabda beliau:

”Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarkan ke telaga (syurga)”.

2. Golongan Yang Selamat akan kembali (ar-ruju’) kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan diantara mereka, sebagai realisasi firman Allah QS. An-Nisa ayat 59:


”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.   (Qs. An_Nisa : 65).

3.     Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 1 :

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya*) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujurat : 1)

*)maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.

4.Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnia Tauhid
5.Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya.

”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran : 31)

6. Golongan yang Selamat selalu menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar :
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar*); merekalah orang-orang yang beruntung”.(QS. Ali Imran : 104)

*)Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.


”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.....” (QS. Ali Imran : 110)










My Family




Me and My Son :D


Politikus Wanita dlm Pandangan Islam


POLITIKUS WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM
Oleh : Drs. H. Sutino Sasmito*)

Muqaddimah

Allah SWT menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai kedudukan dan martabat yang sama, dan secara khusus Allah SWT menempatkan ”Taqwa” sebagai barometer kemulyaan  manusia. Hal ini seperti termaktub didalam Al-Qur’an ayat 13 surat Al-Hujurat:

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.

 Begitu pula. Allah telah maklumkan bahwa antara pria dan wanita dijadikan dari jiwa yang satu, karenanya antara keduanya tidak dapat dipisahkan berdasarkan unsur penciptaannya. Hal ini dijelaskan dalam QS. An-Nisa ayat 1:

”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu”.

[263]  maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

Dari dua ayat di atas dapatlah dipahami, bahwa manusia baik itu  pria maupun wanita mempunyai derajat yang sama di mata Allah SWT. Maknanya adalah bahwa Allah SWT tidak pernah menempatkan salah satu dari keduanya lebih unggul dari lainnya jika dilihat dari sudut penciptaannya. Yang  membedakan di antara keduanya adalah nilai ”ketaqwaan atau ”keshalehahnya”.

Untuk meraih derajat ”Taqwa”,  Allah SWT  telah menetapkan aturan  tentang hak dan kewajiban antara pria dan wanita, dimana masing-masing diberi kesempatan yang sama untuk dapat merealisasikan dalam kehidupan mereka. Di dalam QS. An-Nisa ayat 34 Allah SWT berfirman :

”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”.

Para ahli tafsir (Mufassirin) menjadikan ayat ini sebagai rujukan dalam merumuskan tentang Hak dan Kewajiban antara pria dan wanita. Dengan memahami hak dan kewajiban secara benar antara pria dan wanita, dapat menjaga nilai keseimbangan diantara keduanya serta dapat menghindarkan diri dari ketimpangan yang fatal.

Wanita dan Politik
Semangat gerakan ”gender” yang sedang menggelembung pada akhir-akir ini, seolah menjadi magnit ajaib dikalangan kaum hawa untuk terus mendobrak keterbelakangan posisi mereka ( yang menurut anggapan kaum perempuan hanya diposisikan sebagai konco wingking atau sering dibatasi dengan urusan ”kasur – dapur – sumur”). Status mereka yang terkesan sebagai pelengkap penderita, mulai diperjuangkan secara habis-habisan dengan target mereka harus sama dengan kaum adam. Kaum hawa di era modern ini yakin, bahwa mereka memiliki peran dan fungsi sama dengan kaum  adam. Sehingga seluruh aspek kehidupan harus terus dikejar untuk meraih kesejajaran.
Salah satu bidang yang kini menjadi target di kalangan kamu hawa adalah masalah ”politik”. Terlebih lagi adanya kebijakan tentang frame demokrasi yang sarat dengan muatan politik. Sehingga tidak jarang banyak kaum wanita yang turut terjun langsung dalam kawah politik. Sebagai motivator, mereka kaitkan dengan sosok Kartini yang dinisbahkan sebagai pejuang emansipasi. Kartini, digambarkan sebagai sosok yang bersemangat dalam memperjuangkan kaum perempuan agar mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum pria. Bagai gayung bersambut, kaum perempuan Indonesiapun bergegas mencari peluang karir setinggi tingginya, tak terkecuali dalam wilayah politik praktis, dengan tanpa peduli harus mengorbankan keluarga maupun harga diri. Benarkah sikap demikian sejalan dengan perjuangan Kartini dan selaras dengan semangat ajaran Islam?.
Tampaknya kesimpulan tersebut terlalu terburu-buru. Mengenal jati diri Kartini, salah satunya adalah dengan membaca buku kumpulan surat-suratnya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Dalam buku tersebut tampak jelas, bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang adat istiadat yang kuat di lingkungannya. Ia menganggap setiap manusia sederajat, sehingga tidak seharusnya adat istiadat membedakan berdasar asal-usul keturunannya. Pada awalnya memang Kartini mengungkapkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah Kartini mengenal Islam, ia justru banyak mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Dalam suratnya pula, Kartini pernah meminta agar pemerintah Hindia Belanda memperhatikan nasib pribumi dengan menyelenggarakan pendidikan. Dia mengungkapkan hal yang sama kepada sahabat-sahabatnya, terutama pendidikan bagi kaum perempuan. Hal itu karena perempuanlah yang membentuk budi pekerti anak.

Berulang-ulang Kartini menyebut perempuan adalah isteri dan pendidik anak yang pertama-tama. Dia maksudkan keinginannya mengusahakan pendidikan dan pengajaran agar perempuan lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya dan tidak bermaksud menjadikan anak-anak perempuan sebagai saingan laki-laki. Tidak ada keinginan Kartini untuk mengejar persamaan hak dengan laki-laki dan meninggalkan perannya dalam rumah tangga. Bahkan, ketika dia menikah dengan seorang duda yang memiliki banyak anak, Kartini sangat menikmati tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak suaminya. Itulah yang membuat Stella, salah seorang sahabatnya, heran mengapa Kartini rela menikah dan menjalani kehidupan rumah tangganya. Itulah sosok Kartini yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Kini jelas, apa yang diperjuangakan para aktivis gender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah kehidupan Kartini telah disalah gunakan untuk kepentingan mereka.

Dalam perspektif ajaran Islam, sesungguhnya kaum perempuan sangat dimulyakan. Ada batas-batas wilayah dimana seorang wanita dapat bertindak atau tidak bertindak. Kalau ada pembatasan dalam hal tertentu, itu bukan berarti mengekang hak-hak kaum hawa, tetapi justru dalam rangka meninggikan derajat mereka sesuai dengan nilai kefitrahannya. Tentu Allah SWT sangat mengerti tentang apa yang harus diperankan oleh makhluk ciptaanNya. Ajaran Islam yang bersifat syumul (menyeluruh) akan memberikan nilai kemanfaatan, jika difahami secara benar berdasarkan pendekatan Naqli dengan tanpa meninggalkan Aqli dan bukan dipahami secara emosi. Wallahu a’lam bishshawwab.
 
*)Penyuluh Agama Islam, pada Kantor Departemen Agama Kabupaten Lam. Sel.
**) Makalah disampaikan pada Kegiatan Forum Dialog Politik dan Peberdayaan bagi Kaum Perempuan, pada hari Selasa s/d Kamis, 8 s/d 10 Juli 2008.


Pendidikan Anak Dalam Islam

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM
Drs. Hi. Sutino sasmito

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saudara-saudara  ma’asyiral Muslimin raimakumullah.

Telah maklumlah bagi kita semua, bahwa anak adalah merupakan “amanat” dari Allah SWT. Maka tidaklah ringan beban orang tua yang telah mendapat amanat dari Allah itu. Tentu saja barang amanat hendaknya dipelihara dan dirawat sesuai dengan pesan yang memberi amanat.
Maka bilamana sementara orang menganggap bahwa anak hanyalah sebagai kebanggaan saja, sebagai sesuatu untuk menyombongkan diri  dan pameran gagah-gagahan, kemudian anak tersebut tidak dididik dan tidak dibimbing sesuai dengan perintah Allah, amat celakalah orang tersebut. Akibatnya akan fatal, yakni sang anak  akan mejadi biangnya orang tua terseret ke lembah neraka di akherat dan mendapatkan malu di dunia. Mengapa sang anak membawa orang tuanya ke neraka? Sebabnya ialah karena orang tua melalaikan perintah Allah untuk ”memelihara dirinya dan anggota keluarganya dari api neraka”.

 Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an, surat At-Tahrim ayat 6 :

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Ma’asyiral muslimin raimakumullah.

Jika sang anak tidak mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang benar, dia akan menjadi anak nakal dan anak durhaka. Bila terjadi hal yang demikian, akan berlakukah kemungkinan dua peribahasa yang populer, yakni: ”Seperti ayam beranak itik” atau ”Ibarat membesarkan anak harimau”.
Dua peribahasa di atas, mengandung pelajaran sekaligus peringatan bagi para orang tua. ”Seperti ayam beranak itik”, maknanya ketika masih kecil dipelihara baik-baik, disayang dan dimanja, disusui dan digendong, ditimang dan diayun, tetapi setelah besar dia berpisah dengan orang tuanya. Dia berpisah karena jalan hidupnya telah lain dengan jalan hidup orang tuanya. Telah lain tujuan dan haluan, berlainan paham dan aqidahnya, bahkan berlainan  agamanya. Kalau berlainan masalah yang tidak prinsip bukanlah soal, tetapi bila berlainan masalah aqidah atau keyakinan , ini masalah fatal.
 Begitu pula pepatah, ”Ibarat membesarkan anak harimau”, karena sang anak menjadi anak duhaka, maka kejadian yang kita dengar sehari-hari amat mengerikan. Ada anak menghardik orang tua, bahkan mencaci maki, memusuhi dan melawan orang tua. Karena memelihara dan membesarkan anak harimau, sudah barang tentu anak  tersebut setelah besar akan berganti melawan orang yang membesarkannya. Itulah ilustrasi yang besar kemungkinan saat ini telah banyak terjadi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

          Sehubungan dengan masalah di atas, maka tidak ada alternatif lain bagi kita, khususnya para orang tua, kecuali mendidik anak-anak kita serta membimbingnya kepada ”Taqwallah”. Zaman selalu berubah, putaran dan pergantian masa begitu cepat. Suasana lingkungan dan perkembangan tekhnologi mempunyai dampak yang besar terhadap kehidupan kerohanian dan perubahan nilai.  Bertolak dari sinilah mengapa kita mutlak harus memberikan banyak bekal kerohanian kepada anak-anak kita. Karena bila tidak, mereka akan kewalahan menghadapi perkembangan zaman. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

 ”Didiklah anak-anakmu karena mereka itu dijadikan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu ini”.

Umar bin Khattab r.a. juga pernah berkata:

 ”Sesungguhnya anak-anak kalian dijadikan untuk generasi yang lain dari generasi anda sekarang ini, dan dijadikan untuk (menghadapi) zaman yang lain dari zaman anda sekarang ini”.
Dengan sabda Rasulullah saw dan pesan Umar bin Khattab r.a di atas, menjadi jelaslah bhwa sejak kecil anak-anak kita seharusnya telah menerima pendidikan agama. Sejak anak dalam kandungan, setelah lahir hingga dewasa, masih perlu kita bimbing. Berdasarkan sebuah penelitian ilmu pengetahuan moderen menyimpulkan bahwa faktor yang sangat dominan dalam pembentukan jiwa manusia adalah lingkungan. Dan lingkungan pertama yang dialami oleh sang anak adalah asuhan ibu dan ayah. Inipula yang menjadi alasan, mengapa mendidik anak itu dimulai sejak dini, karena perkembangan jiwa anak telah mulai tumbuh semenjak kecil, sesuai dengan fitrahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
 
”Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga lancar lidahnya; maka kedua orangtuanyalah  yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Thabrani, Baihaqy).

          Untuk itu, sebagai orang  tua kita dituntut untuk mendidik dan membmbing anak-anak kita kepada agama yang sesuai dengan fitrah (naluri manusia) yakni Agama Islam, agar mereka memiliki aqidah yang kokok, Ibadah yang kuat serta akhlak yang karimah. Anak-anak kita laksana kertas putih bersih. Orang tualah yang  nantinya memberikan corak dan warna lukisan apa yang dikehendaki.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Allah SWT mengingatkan kita sebagai orang tua, bahwa anak disamping sebagai amanat, mereka juga dapat menjadi cobaan atau fitnah bahkan dapat mejadi musuh bagi orang tua. Bila anak tidak dididik dan dibimbing sesuai dengan ajaran Islam, maka besar kemungkinan anak akan menjadi musuh bagi orang tuanya. Seperti Kan’an berkompromi dengan orang kafir kemudian memusuhi ayahnya Nabi Nuh a.s. Itulah contoh yang jelas dalam kehidupan seorang Nabi.

Rasulullah SAW bersabda:

 ”Bukanlah musuhmu itu orang yang apabila engkau bunuh dia, berarti kamu menjadi menang,dan kalau kamu mati terbunuh maka kamu akan masuk syurga; tetapi musuhmu itu terkadang adalah anak yang lahir dari tulang rusukmu sendiri. Kemudian musuhmu yang paling berat lagi ialah harta benda yang kamu miliki”. (HR. Thabrani).

Anak durhaka, itulah yang akan menjadi musuh bagi orang tuanya dan menjadi musuh bagi orang lain. Tak ada kata yang didengarkan, tak ada nasehat yang diperhatikan. Mungkin dia diam jika diberi nasehat tetapi setelah itu hilang lenyap tiada bekas. Sehingga tak ada air sejuk yang manapun yang mampu menjinakkan hatinya, karena dirinya jauh dari petunjuk Allah SWT. Orang tuanya sendiri dilawannya, disakiti fisiknya bahkan dibunuhnya, karena barangkali dianggap menghalangi maksud dan kehendaknya.  Hal ini telah Allah peringatkan dalam Al-Qur’an surat At-Taghabun ayat 14 – 15 :
”Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
”Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Jika demikian tentulah kita sebagai orang tua, sangat mengharapkan hadirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah. Upaya untuk mencetak anak yang sholeh dan sholehah harus dimulai melalui proses pendidikan yang benar. Terdapat Tiga Pusat Pendidikan atau Tri Pusat Pendidikan yang dapat menghantarkan anak kearah pembentukan jati diri yang baik, yaitu : Keluarga, Sekolah dan Masyarakat.

Pertama :Pendidikan Keluarga
Sebelum anak mengenal sekolah dan masyarakat lingkungannya, terlebih dahulu ia hidup dalam alam dan udara keluarga. Dalam keluarga itulah dia mengenal pendidikan atau mengenyamnya pada mula pertama kali. Terutama ibunya, sejak dalam kandungan dia telah mempunyai ”hubungan batin” dengan sang ibu. Kemudian dalam keluarga si anak mula-mula mengenal kata-kata dan pengertiannya, ucapan-ucapan dan bacaan-bacaan. Juga berbagai contoh teladan yang nantinya tidak dapat lepas dari apa yang bakal dipraktekkannya dalam kehidupan anak selanjutnya.

Kedua : Pendidikan Sekolah
Orang tua hendaknya jangan terlalu yakin menyerahkan anaknya pada sekolah yang kurang benar situasinya. Sebagai seorang muslim, menyekolahkan anak mestinya pada sekolah yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Atau jika terpaksa pada sekolah-sekolah umum, janganlah orang tua ”melepaskan” begitu saja pengawasan dan pendidikan Agama meskipun dengan cara yang bagaimanapun. Bila orang tua menyekolahkan anaknya pada sekolah umum, hendaknya dipilih sekolah yang disiplinnya kuat.

Ketiga : Pendidikan dalam Masyarakat
Masyarakat merupakan salah satu media pendidikan yang tidak kalah pentingnya bagi pembentukan kepribadian anak. Tidak jarang anak yang awalnya penurut lagi taat pada ajaran Agama dan orang tua, tiba-tiba luntur kepribadiannya. Ada pula anak yang ketika di rumah  yang masih mendapatkan pengawasan orang tuanya secara dominan, tiba-tiba berubah jalan hidupnya keluar dari kebenaran, setelah terkena pengaruh salah  pergaulan. Karena itu pendidikan masyarakat juga memegang peranan penting dan tidak boleh diabaikan. Agar kepribadian anak tetap terjaga, maka orang tua seyognyanya mengarahkan anak-anak mereka yang telah menanjak usia dewasa untuk ikut aktif dalam organisasi kepemudaan di masyarakat dengan tetap diberikan pengawasan secara bijaksana.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Demikianlah beberapa hal yang harus dipahami tentang pendidikan  anak dalam pandangan Islam, guna mempersiapkan generasi rabbani yang tangguh dalam Aqidah, Teguh dalam ibadah dan Istiqamah dalam ber-akhlaqul karimah. Semoga anak-anak kita menjadi anak anak penentram  batin, penyejuk jiwa serta harapan bagi orang tuanya baik semasa di dunia hingga mereka telah tiada. Amin yaa rabbal’alamin.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu ’ala ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaihi.
Nasrun minallah wa fathun qarib.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.